|
"Mo, lu yakin gak papa dia merit?" dia berkata sambil menatap tajam ke mataku, membuatku terpesona dengan mata bulatnya. "hmm…" aku mendesah sambil mengalihkan pandangan pada mug berisi earl grey tea yang baru diantar pelayan Oh la la, "yakin! gw dah bener-bener bisa melepaskan bayang-bayang dia dalam kehidupan gw, sekarang buat gw, dia adalah temen, saudara yang harus gw dukung apapun yang dia lakukan n putuskan dalam hidupnya" sambungku sambil menatap balik ke wajah bulatnya yang tetap menatapku dengan tajam.Diseruputnya ice cappucino didepannya sambil menggoyang-goyangkan gelasnya,"kok gw gak yakin sih mo?, lu khan sayang banget ama dia" balasanya dengan suara pelan sambil menatapku kembali dengan tajam. "yeah, many things happened between us and then finally I've decided not to love her like a couple, but love like she's my sister" sahutku, "lu Kuambil sendok dari tangannya, kupotong kecil tiramisunya dan langsung kumakan dengan lahap, mayan deh buat ngisi perut. Sambil menunggu aku mengunyah tiramisu di mulutku, ditatapnya sekilas mataku kemudian beralih menatap langit-langit Oh lala memperlihatkan lehernya yang panjang. Aku menatap leher putihnya, dan seperti biasanya, pikiranku selalu berbelok membayangkan keseksian tubuhnya. Walaupun sedikit aneh melihat tatapannya kali ini, bukan seperti dua bola mata bulat yang menjadi dalam gambar yang menjadi wallpaper komputerku di Jogja. Hasil bidikanku ketika ke "gw lagi sedih nih mo" "lho, bukannya itu bentuk perhatiannya ama elu" sahutku cepat. "bener sih, tapi gw langsung sedih banget abis ngomong keras tadi pagi, sakit dada gw" ungkapnya sambil mengelus dadanya. "Belum, tadi aja pergi gw gak pamit" sahutnya. "Hmm… ya udah ntar pulang langsung minta maaf yah, jangan dibikin berlarut-larut kayak gue ama emak gue!" kataku sambil menatap matanya dengan tatapan serius. "Elu kenapa lagi ama mama?" balasnya cepat, raut wajahnya menjadi serius." Yang masalah dulu itu lagi?" "yah, mama emang begitu bukan? That's why i go to jogja… sesudah kedua kalinya gue berantem tentang masalah yang sama dengan nyokap gue, daripada gue nambah masalah kalo gue tetep di "gw juga dah dibilang anak durhaka kok… " sambungku cepat, kutatap kembali wajah bulatnya, mataku berkaca-kaca,"selama di "Tapi lu dah ketemu mama khan?" sahutnya dengan suara yang pelan, masih tetep dengan dengan sebutan mama buat nyokapku. "udah, gw nyetor muka aja ama emak gue" balasku cepat, "gue sebetulnya malu karena gue nyuruh lu minta maaf ama nyokap tapi gue sendiri sampai sekarang belum minta maaf, gak tahu kenapa?" Ujarku dengan sedikit kutundukkan kepala memandang gelas camomile tea yang tinggal separuh. Hasil dari aku bekerja di salah satu importir makanan adalah semakin tahu berbagai jenis makanan dan minuman dari berbagai belahan dunia.
"Ngga pantes lagi ampe lu berlarut-larut bikin masalah ama mama" dilihatnya mataku dengan tatapan yang mulai datar. |
| Leave a Comment: |